Arrow

Also in Category...


You are browsing with label: Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
PEKANBARU (RS) Rumah Sakit (RS) Eka Hospital melarang sejumlah wartawan meliput kondisi tiga nelayan, korban penembakan di Selat Malaka, Riau. Pihak rumah sakit malah mengusir jurnalis yang ingin mengetahui keadaan tiga nelayan asal Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis.

Tiga wartawan bermaksud mencari korban di lantai 5, Eka Hospital, Sabtu (10/12). Masing-masing wartawan Trans7 Zainul Tanjung, Metro TV Fitra Asrirama dan Riau Pos Syahrul. Namun, dua petugas satuan pengaman (satpam) minta wartawan tidak berada di lantai 5, lokasi perawatan tiga nelayan. Bahkan salah seorang satpam menutup paksa kamera wartawan Metro TV. Alasannya, belum ada izin dari manajemen rumah sakit.

“Tolong matikan kameranya pak,” tegas satpam perempuan itu.

Wartawan yang berniat mengabadikan gambar di luar ruang pasien pun tetap dihalangi satpam. Sebenarnya awak media sudah mencoba menghubungi Humas Eka Hospital Ina, via telepon. Namun, tidak berhasil karena telepon genggam Nia tidak aktif. “Kami tidak akan meliput jika itu bukan ruang publik. Mereka benar-benar melecehkan dan tidak menghargai pekerjaan jurnalis,” kata wartawan Trans7 Zainul.

Kasus penembakan tiga nelayan yang melintas di Selat Malaka, tepatnya perbatasan Rokan Hilir-Bengkalis, Jumat (9/12) masih diselidiki Polres Bengkalis. Belum ada keterangan resmi tentang motif penembakan ketiga warga Pulau Rupat itu. “Kami masih fokus menyelamatkan nyawa ketiga korban yang sedang dirawat. Polisi masih memburu para pelaku,” kata Kapolres Bengkalis AKBP Toni Ariadi Efendi. (asr)

INDRAGIRI HULU (RS) Hujan deras yang mengguyur sebagian Provinsi Riau menyebabkan jalan antar kabupaten putus. Puluhan desa terisolasi dan ribuan warga terancam kelaparan di Kabupaten Indragiri Hulu.
Jalan lintas Selatan yang menghubungkan Indragiri Hulu dengan Kuantan Singingi putus, seminggu terakhir. Jalur perdagangan sepanjang 20 kilometer ini tidak bisa dilewati kendaraan barang dan pribadi.
Jalan putus menyebabkan 20 desa di Kecamatan Batang Cenaku, Indragiri Hulu terisolasi. Masyarakat setempat terancam kelaparan karena kesulitan mendapatkan sembako.
Untuk bisa menembus jalan putus, warga terpaksa menggunakan alat berat untuk menarik kendaraan. Sebagian besar kendaraan yang melintas di jalan vital ini adalah angkutan barang berupa bahan sembako, kelapa sawit, bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.
Meski jalan lintas Selatan ini putus setiap musim hujan, belum ada upaya perbaikan dari Pemerintah Provinsi Riau. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat setempat karena sarana transportasi yang lumpuh mengganggu aktivitas ekonomi. “Apakah pemerintah menunggu masyarakat mati dulu baru jalan ini diperbaiki. Kami sudah letih menunggu,” kata tokoh masyarakat Indragiri Hulu Suharto. (asr)
PEKANBARU (RS) Jumlah pasangan pengantin yang menikah di Pekanbaru, Riau tanggal 11 bulan 11 tahun 2011 meningkat. Umumnya, calon suami istri tertarik menikah hari ini karena dianggap momen terbaik.

Jumlah pasangan yang menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tampan, Pekanbaru tepat tanggal 11 bulan 11 terdata 52 pasangan. Padahal biasanya, di hari lain hanya dua sampai tiga pasangan calon pengantin.

“Jumlah pernikahan meningkat tajam. Kami terpaksa menikahkan dua pasangan setiap satu jam,” kata penghulu KUA Tampan Suhardi.

Selain di Kecamatan Tampan, peningkatan juga terjadi di Senapelan, Lima Puluh, Rumbai dan Sukajadi. Kantor Urusan Agama se-Pekanbaru mencatat jumlah pernikahan hari ini mencapai 379 pasangan.

Pengantin mengaku tertarik menikah di momen tanggal 11 bulan 11 karena dinilai membawa berkah. Selain itu, tanggal pernikahan hari ini lebih mudah diingat. “Ini hari baik. Jadi kami pilih karena tanggalnya cantik,” kata calon pengantin Zamroni. (asr)

INDRAGIRI HULU (RS) Suku Talang Mamak di pedalaman Indragiri Hulu masih terisolasi dari dunia luar. Bahkan, suku terasing ini belum tersentuh sarana kesehatan. Akibatnya, ratusan anak-anak dan orang tua menderita berbagai penyakit yang ditanggung turun menurun.

Sungai Batang Gansal adalah salah satu jalur untuk menembus pemukiman suku Talang Mamak. Perjalanan air ke perkampungan suku asli ini memakan waktu 16 jam. Arus deras dan tikungan sungai yang sempit membuat pengunjung perlu ekstra hati-hati. Arus Batang Gansal dikenal ganas, terutama saat musim hujan.

Talang Mamak menempati enam dusun di Kecamatan Siberida, Indragiri Hulu. Salah satunya di Dusun Sadan yang dihuni lebih 100 penduduk. Konon, leluhur Talang Mamak berasal Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Mereka melarikan diri ke Indragiri Hulu karena konflik adat dan agama.

Kehidupan sosial, ekonomi dan budaya suku ini masih sederhana. Penduduk tinggal di rumah tradisional yang terbuat dari kayu, bambu dan atap daun rumbia. Talang Mamak memang terisolasi dari masyarakat modern karena kuatnya ikatan adat.

Buruknya sanitasi membuat keluarga miskin di daerah terpencil ini menderita berbagai penyakit. Mereka terpaksa menanggung TBC, diare dan penyakit kulit turun temurun karena ketiadaan fasilitas kesehatan.

Dokter dan tenaga perawat masuk ke pedalaman Indragiri Hulu hanya satu kali dalam setahun. Mereka harus melawan arus sungai dan belantara Sumatera untuk sampai ke perkampungan Talang Mamak.

“Kondisi medan yang berat membuat kami harus siap menghadapi berbagai resiko,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Indragiri Hulu Zainal.

Perjalanan dengan perahu mesin semakin beresiko karena beratnya muatan berupa obat-obatan dan peralatan medis. Dokter yang dikirim ke Dusun Sadan dan Datai berasal dari Dinas Kesehatan Indragiri Hulu.

Biasanya, tim medis tiba di lokasi pengobatan gratis menjelang malam. Penduduk asli langsung menyambut kedatangan mereka dan minta dilayani. Umumnya, suku Talang Mamak lebih percaya pada dukun dan obat dari alam. Perlahan-lahan, sebagian penduduk mulai beralih ke pengobatan modern. Namun, kemiskinan membuat suku Talang Mamak yang sadar kesehatan modern tidak mampu berobat ke kota.

“Faktor kemiskinan menyebabkan penyakit mereka sulit diobati. Sementara, fasilitas kesehatan belum ada di pemukiman suku asli,” kata Zainal

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Indragiri Hulu, 158 warga suku asli saat ini menderita penyakit kulit. Kasus penyakit yang ditemukan terus bertambah karena menular dalam satu keluarga dan ke warga lain.

Selain penyakit kulit, banyak juga warga terserang TBC dan diare yang disebabkan bakteri. Pengobatan terpaksa dilakukan di tempat terbuka, bahkan di atas perahu karena tidak ada puskesmas di tengah hutan Bukit Tiga Puluh. (asr)

ROKAN HULU (RS) Polres Rokan Hulu menangkap lima pengedar kupon judi toto gelap (togel) di Pasir Pengarayan, Senin (7/11). Kelima warga ditangkap dalam razia anti penyakit masyarakat.

Lima penjual kupon togel ditahan di Markas Polres Rokan Hulu, Pasir Pengarayan. Mereka tertangkap saat mengedarkan kupon judi di tengah pemukiman penduduk. Salah satu tersangka mengenakan kaos Partai Golkar, ditangkap karena meresahkan masyarakat akibat kegiatan judi yang dilakukannya.

Polisi menyita uang Rp2 juta, sejumlah kupon togel, pena, kalkulator, buku rekapitulasi dan lampu. Para tersangka dijerat dengan Pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Peredaran kupon judi di Rokan Hulu mendapat kecaman masyarakat. Penjualan togel bahkan dilakukan terang-terangan di warung dan pusat perdagangan. Menurut Kasat Reskrim Polres Rokan Hulu, Antoni Lumban Gaol, peredaran togel semakin meresahkan. Oleh sebab itu, Polres Rokan Hulu bertekad menghentikan praktek perjudian ini. “Kami tidak akan pandang bulu, siapapun pelakunya harus ditangkap,” tegas Antoni. (dri)

PEKANBARU (RS) Kegiatan Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah di Pekanbaru dipusatkan di Mesjid Al Fida’ Jl Ahmad Dahlan, Minggu (6/11). 12 ekor sapi kurban disembelih untuk dibagikan kepada warga miskin dan jemaah sekitar mesjid tahun ini.

LAZISMU Riau menggelar penyembelihan hewan kurban, bekerja sama dengan panitia kurban pengurus Mesjid Al Fida.’ 12 ekor sapi dan empat kambing dikurbankan. Satu ekor sapi di antaranya merupakan hewan kurban yang disalurkan LAZISMU Pusat. Sedangkan 11 ekor lainnya hewan yang disumbangkan warga di sekitar Mesjid Al Fida.’

Puluhan warga menyaksikan pemotongan kurban mulai pagi usai shalat Idul Adha. Daging kurban akan dibagikan usai shalat Zuhur kepada masyarakat dan warga miskin di Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.
Selain melakukan kegiatan penyembelihan hewan kurban, LAZISMU Riau juga menggelar pengobatan gratis untuk masyarakat. Petugas LAZISMU Riau, Dede Firmansyah mengharapkan kegiatan amal ini mampu meringankan beban masyarakat miskin di tengah tingginya harga kebutuhan pokok.

“Ini benar-benar kegiatan untuk meringankan beban warga miskin. Tahun ini, Riau mendapat jatah 3 ekor hewan kurban dari LAZISMU Pusat. Masing-masing disalurkan ke Pekanbaru dua ekor dan Pelalawan satu ekor,” kata Dede. (asr)

PEKANBARU (RS) Puluhan calon haji di Pekanbaru terpaksa mencari tas bekas karena belum mendapatkan tas haji resmi dari Kementerian Agama Kota Pekanbaru. Calon haji kecewa buruknya pelayanan petugas haji di lembaga tersebut.

44 calon haji mengumpulkan tas bekas di rumah warga, Jl Duyung, Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Tas bekas ini dipinjam dari jemaah haji yang berangkat tahun lalu.

Menurut calon haji kloter 10 Pekanbaru, mereka sudah melunasi seluruh biaya haji sekitar Rp30 juta. Namun tiga hari menjelang keberangkatan, puluhan calon haji belum juga mendapatkan tas resmi berlogo Kementerian Agama dan perlengkapan yang dibutuhkan di tanah suci.

Padahal calon haji kloter 10 harus menyerahkan tas haji ke kargo Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru paling lambat, Sabtu (8/10). Warga mengaku khawatir tas bekas ini tidak lolos di bandara Arab Saudi. Namun mereka tidak punya pilihan karena waktu keberangkatan semakin dekat.

“Kami tidak yakin tas ini bisa keluar masuk bandara. Tapi mau gimana lagi, kami hanya berdoa semua urusan ibadah lancar,” kata calon haji, Irul Bahri.

Para calon haji mengungkapkan mereka harus membayar sejumlah uang agar mendapatkan tas resmi berlogo Kementerian Agama. Namun Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pekanbaru Edwar Umar membantah tuduhan warga. Menurut Edwar, pihaknya tidak pernah mempersulit pengurusan haji, apalagi melakukan pungutan liar.

“Soal biaya tali rajut dan tanda pengenal tas, itu tidak ada paksaan. Jemaah juga tidak berurusan dengan Kemenag Pekanbaru, tapi dengan penjual,” kata Edwar.

Edwar mengatakan jemaah kloter 10 yang belum mendapatkan tas disebabkan mereka terlambat mengurus perlengkapan haji tersebut. Kementerian Agama Kota Pekanbaru beralasan kehabisan stok tas haji hingga kini. Lembaga ini menyatakan belum menerima tas baru sehingga harus menunggu kiriman dari sebuah maskapai. Total jemaah haji Pekanbaru yang berangkat ke tanah suci tahun ini mencapai 1.055 orang. (asr)