Pekanbaru Online
PEKANBARU (RS) Sejumlah tempat wisata masih ramai dipadati pengunjung di Pekanbaru, Senin (5/9). Pasca Lebaran Idul Fitri, ribuan warga menikmati berbagai fasilitas permainan yang tersedia di objek wisata keluarga. Salah satu tempat rekreasi favorit yang ramai dikunjungi warga adalah Taman Alam Mayang, Jl Imam Munandar, Pekanbaru. Wisatawan lokal dari berbagai daerah berbondong-bondong menikmati sejumlah permainan.
Antara lain perahu dayung, bola air, bom-bom car dan kincir berputar. Suasana meriah di lokasi objek wisata alam ini mulai terlihat sejak awal Lebaran. Keluarga yang datang ke Alam Mayang memang sebagian besar berasal dari Pekanbaru.
Umumnya pengunjung adalah kalangan anak-anak dan remaja yang menghabiskan liburan menjelang awal masuk sekolah, Senin (12/9) mendatang. Wisatawan bisa memilih berbagai atraksi permainan yang disediakan pengelola Alam Mayang.
“Kalau bisa fasilitasnya lebih ditingkatkan. Keamanan pengunjung juga perlu diperhatikan,” kata seorang wisatawan Eni Fitriana.
Diperkirakan, lebih 1000 warga memadati Taman Alam Mayang setiap hari selama satu minggu Lebaran. Objek wisata ini paling ramai didatangi wisatawan karena lokasinya mudah dijangkau, hanya sekitar 20 menit dari pusat Kota Pekanbaru. (asr)
KUANTAN SINGINGI (RS) Ribuan warga menghadiri tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Minggu (24). Tradisi pacu jalur tetap dipertahankan masyarakat Kuantan Singingi sejak zaman penjajahan Belanda. Festival Pacu Jalur digelar di Sungai Kuantan, Kota Teluk Kuantan, Kuantan Singingi. Warga berbondong-bondong datang ke Tepian Narosa untuk menyaksikan tradisi yang masuk kalender pariwisata nasional ini.
Sebelum lomba digelar, ribuan warga sudah memadati lokasi Pacu Jalur, menunggu tim dayung yang diunggulkan. Perahu atau masyarakat setempat menyebutnya jalur sepanjang 40 meter diisi 50 pendayung. Biasanya setiap tahun, Pacu Jalur diikuti ratusan tim dayung dari 12 kecamatan.
Salah seorang pengunjung, Iskandar mengharapkan masyarakat Kuantan Singingi melestarikan tradisi Pacu Jalur untuk memperkaya budaya nasional. “Tradisi unik karena tidak ditemukan di daerah lain. Semoga masyarakat tetap mempertahankannya sebagai budaya asli,” kata Iskandar.
Ratusan pendayung atau anak jalur bersaing memperebutkan hadiah berupa uang puluhan juta rupiah dan kerbau. Di zaman kolonial Belanda tahun 1900, pacu jalur diadakan untuk memeriahkan hari ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina. Namun sejak kemerdekaan, Pacu Jalur digelar sebagai hiburan rakyat sebelum atau setelah Hari Proklamasi 17 Agustus.
Biasanya Pacu Jalur juga dibarengi kegiatan jual beli di sekitar lokasi acara, Kota Teluk Kuantan. Pedagang dadakan muncul di pinggir Sungai Kuantan menjual makanan khas daerah dan berbagai kebutuhan warga. Perputaran uang ratusan juta rupiah selama even budaya ini mampu mendongkrak ekonomi masyarakat setempat. (asr)
Istana Siak dibangun tahun 1889 masehi. Raja Siak yang mendirikan istana ini bernama Sultan Assayyaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin.
Sultan membangun istana di Kota Siak Sri Indrapura, sekaligus pusat Kerajaan Siak di masa itu. Istana Siak bergaya Arab, Eropa dan Melayu karena Sultan Syarief Hasim adalah seorang keturunan Arab dan Melayu, tertarik pada arsitektur negara Eropa yang pernah dikunjunginya.
Dalam Istana Siak masih tersimpan benda-benda peninggalan Sultan Siak pertama sampai sultan ke-12. Antara lain foto sultan ke-12, Assayyidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin. Sultan Syarif Kasim menjadi raja Siak terakhir, memerintah dari tahun 1915 sampai 1946.
Benda pusaka yang menarik banyak pengunjung adalah alat musik komet. Konon, alat musik sejenis gramafon ini hanya tinggal dua di dunia, yakni ada di Siak dan Jerman sebagai negara yang memproduksinya.
Dari piringan baja komet mampu mengalun musik instrumental karya komponis dunia seperti Bethoveen, Mozart, Strauss dan Sebastian Bach. Komet dibawa Sultan Syarief Hasyim dari lawatannya di Jerman ke Siak tahun 1896.
Kursi singgasana dan replika mahkota Sultan Siak juga masih bisa dilihat di ruang tengah istana. Mahkota kebesaran ini dipakai pertama kali oleh Sultan Siak ke-10. Mahkota aslinya tersimpan di museum nasional Jakarta, terbuat dari emas dan permata.
Benda bersejarah lain yang juga bisa dilihat misalnya, meriam perjuangan rakyat Siak untuk menghadapi Belanda, perlengkapan makan para bangsawan, brangkas kekayaan raja dan keturunannya serta gramafon.
Saat ini, Istana Siak dan ratusan benda pusaka di dalamnya dikelola Yayasan Amanah Sultan Syarif Kasim. Pengurusnya terdiri dari keturunan Sultan Siak. Salah seorang pengurus yayasan, Syarifah menolak Istana Siak dikelola Pemerintah Kabupaten Siak karena statusnya masih milik keluarga kerajaan.
“Kami tidak akan pindah dari komplek istana ini. Sultan tidak pernah menyerahkan istana kepada pemerintah,” kata Syarifah, beberapa waktu lalu.
Bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di lingkungan Istana Siak, antara lain rumah pribadi sultan dan kapal kato yang digunakan Sultan Syarim Kasim untuk mengunjungi rakyatnya. Nah, jika anda tertarik melihat sisa kerajaan Melayu ini, lokasinya bisa ditempuh melalui jalan darat, sekitar tiga jam perjalanan dari Pekanbaru. (asr)
Konon, di sekitar Tujuh Danau tumbuh banyak tanaman langka berumur ratusan tahun. Sayangnya, tempat rekreasi ini terancam aktivitas penebangan liar (illegal logging).
Objek wisata Tujuh Danau berada di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kampar. Lokasi ini bisa dijangkau dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau selama 30 menit. 
Untuk sampai ke Buluh Cina, pengunjung harus menyeberang Sungai Kampar sepanjang 100 meter. Sungai Kampar merupakan salah satu sungai terluas di Riau, hulunya berada di Sumatera Barat dan bermuara ke Selat Malaka.
Tujuh Danau terletak di tengah hutan lindung Buluh Cina. Tempat ini dinamakan Tujuh Danau karena memang memiliki tujuh danau yang dipisahkan hutan tropis.
Masyarakat setempat menyebut tujuh nama, yakni Danau Pinang Luar, Pinang Dalam, Tanjung Putus, Toak Tonga, Tanjung Balam, Bruntai dan Danau Baru. Tujuh Danau ini memiliki keunikan, antara lain warna airnya yang hijau kecoklatan, di kelilingi tanaman khas hutan rawa gambut.
Setiap hari libur, kawasan wisata ini dikunjungi warga dari berbagai daerah. Wisatawan bisa menikmati keindahan alam Sumatera sambil bersantai di pinggir danau.
Puluhan jenis tanaman langka tumbuh di sekitar Tujuh Danau. Di antaranya pohon rengas, merbau, kandis dan kruing. Konon, menurut penduduk asli Buluh Cina, tanaman dilindungi ini ada yang berumur hingga 400 tahun.
Sayangnya, hutan lindung Buluh Cina terancam aksi penebangan liar. Lembaga pemantau lingkungan di Riau memperkirakan dari 1.000 hektare hutan lindung Buluh Cina, 450 hektare sudah rusak karena dirambah para pembalak liar.
“Kondisi ini amat memprihatinkan. Seharusnya hutan bisa menjadi aset, malah dirusak demi kepentingan bisnis,” kata aktivis lingkungan, Zenal Efendi, Selasa (14/6).
Menurut Zenal, kerusakan hutan lindung memicu terjadinya banjir tahunan di Buluh Cina. Akibat bencana tersebut, warga harus mengungsi dan aktivitas ekonomi terganggu.
Nuansa Melayu sangat kental dalam kehidupan adat istiadat dan budaya masyarakat Buluh Cina. Salah satu contoh kebudayaan Melayu yang menonjol di desa ini terlihat dari bentuk rumah penduduk asli.
Keunikan Melayu Kampar dibanding Melayu umumnya adalah bahasa dan adat mereka yang dipengaruhi kultur Minang Kabau. Akulturasi budaya Melayu dan Minang Kabau ini terjadi karena letak Kampar yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat.
Warga yang bermukim di sekitar Tujuh Danau hidup sederhana dari hasil tangkapan ikan. Mereka secara turun temurun memegang adat, berbaur dengan alam di bantaran Sungai Kampar. (tim)